Friday, April 3, 2026

,

Sudah berapa lama kita seperti ini?


dekat, tapi tak benar-benar bertemu,
saling tahu, tapi tak benar-benar menyapa.


Aku sampai bertanya-tanya,
kapan ya percakapan kita pernah terasa utuh?
Karena sejauh yang kuingat,
kita selalu sebatas tanya dan jawab singkat,
lalu selesai begitu saja.


Dan hari ini,
akhirnya kita duduk di satu meja.


Lucunya, kamu yang mengajak.
Hal kecil yang seharusnya sederhana,
tapi entah kenapa terasa besar bagiku.
Mungkin karena ini pertama kalinya.
Atau mungkin karena aku berharap lebih dari sekadar makan.


Kupikir, kalau kamu yang memulai,
kamu juga yang akan membuka cerita.
Ternyata aku keliru.


Aku sempat bertanya,
sekadar memastikan,
“lagi suntuk?”
Kamu menjawab,
tapi seperti tak benar-benar ingin didengar.


Setelah itu, aku yang berusaha menjaga percakapan tetap hidup.
Bukan dengan hal-hal dalam,
bukan sesuatu yang berani menyentuh perasaan.
Hanya pertanyaan ringan, aman.
Dan sisanya… hening.


Sampai aku bertanya dalam hati,
ini kita sedang makan bersama,
atau hanya dua orang yang sama-sama diam
di tempat yang sama?


Padahal,
kita seharusnya sudah melewati fase canggung.
Setidaknya, harusnya begitu.


Diammu hari ini terasa berbeda.
Bukan sekadar tenang,
tapi seperti batas yang tak terlihat.


Dan aku,
yang biasanya bisa berdamai dengan diam,
justru merasa terusik.


Aku jadi sadar,
selama ini pun mungkin memang begitu.
Aku yang lebih sering mencari,
aku yang mencoba memulai,
dan kamu… memilih tetap diam.


Aku tidak keberatan menunggu,
tapi apakah aku harus selalu menunggu?


Surat ini pun sebenarnya tak punya suara.
Ia hanya rangkaian kata
yang mungkin tak mampu memaksamu untuk menjawab.
Tapi meski tanpa suara,
ia membawa rasa,
rasa yang justru lahir dari diammu.


Rasa yang tidak tunggal.
Rasa yang saling bertabrakan di kepala.
Kadang terasa seperti berteriak,
kadang hanya menggantung
dan membuatku gelisah tanpa alasan yang jelas.


Mungkin ini terdengar berlebihan,
tapi hanya lewat cara ini aku bisa tetap “berbicara”.
Karena di antara kita,
diam seperti sudah mengambil terlalu banyak ruang.


Aku tahu,
kita sama-sama tenggelam dalam diam.
Entah karena sibuk,
atau mungkin karena sudah terbiasa.
Tapi jujur,
diam yang seperti ini tak pernah benar-benar terasa nyaman.


Diammu selalu memunculkan tanya.
Apakah itu jawaban yang tak diucapkan?
Atau justru pertanyaan
yang sengaja kamu biarkan menggantung?


Kadang aku ragu,
apa ada yang salah dariku?
Atau memang kamu yang perlahan menjauh,
tanpa pernah benar-benar pergi?


Diammu aneh.
Ia tidak berhenti di kamu,
tapi perlahan menyeretku ikut diam.


Aku tidak ingin mengganggumu.
Tapi justru diammu yang terus menggangguku.


Aku juga sempat berpikir,
mungkin ini semua karena aku terlalu lama menunggu kamu bersuara duluan.
Mungkin aku yang salah langkah.


Tapi semakin lama,
yang tadinya samar jadi terasa jelas,
jarak itu bukan lagi tipis.
Ia sudah berubah menjadi batas
yang sulit untuk kulewati.


Aku menulis ini bukan untuk menuntut jawaban besar.
Aku hanya ingin jujur,
bahwa di balik semua diam ini,
aku masih menyimpan sesuatu.


Perasaan yang entah kenapa
belum juga menemukan tempatnya.


Dan yang paling mengganggu,
aku mulai meragukan diriku sendiri,
apakah aku terlalu jauh membaca semuanya,
atau justru selama ini aku yang pura-pura tidak mengerti?


Hari ini memberiku satu hal:
kita bisa duduk berhadapan,
tapi belum tentu benar-benar saling hadir.


Aku lelah menebak.
Aku hanya ingin suatu hari bangun,
dan kita tidak lagi saling bersembunyi di balik diam.


Karena jujur,
aku takut,
kalau terlalu lama seperti ini,
aku akan kehilangan tempatku,
digantikan oleh sesuatu yang bahkan tak pernah benar-benar ada:
diam itu sendiri.


Hari ini,
aku memilih untuk bersuara.
Menyampaikan sesuatu yang sejak lama kupendam.


Dan dari semua pertanyaan yang berisik di kepalaku,
hanya satu yang terus tertinggal.


waktu kamu mengajakku makan tadi,
itu karena kamu ingin,
atau hanya karena aku ada?


Kalau boleh jujur,
jangan terlalu lama diam.
Aku lebih menyukai kamu yang berisik,
daripada kamu yang perlahan menghilang tanpa kata.

Friday, March 27, 2026

,

Barangkali aku tak benar-benar lupa bagaimana rasanya jatuh
hanya saja, terlalu lama menahannya
hingga ia menjelma sesuatu yang lain:
sebuah riak yang membesar diam-diam
di kepalaku,
mengusik malam-malam yang seharusnya tenang,
seakan mendesak untuk disingkirkan,
lalu disimpan rapi
sebagai pengakuan yang tak pernah diucapkan.


Sejak awal seharusnya aku paham,
ada yang tak pernah benar-benar hilang
ia hanya menunggu lengah,
menunggu celah kecil
untuk kembali terasa.


Seperti musim yang datang tanpa diminta,
saat buah-buah Khuldi matang pada waktunya,
dan doa-doa menggantung di udara
tanpa kepastian akan dikabulkan atau tidak.


Seperti Hawa yang menitipkan harap pada Adam,
seperti Zulaikha, yang akhirnya kalah oleh tatapannya sendiri pada Yusuf.
dan seperti aku
yang tak pernah cukup kuat
untuk bersikap biasa saja pada rasa.


Mungkin bukan lupa,
mungkin aku hanya tak lagi tahu
bagaimana harus memulainya.


Maka kutata perasaan ini pelan-pelan,
seperti merangkai kata yang enggan selesai,
yang terus berjalan
hingga akhirnya menyamar menjadi puisi
yang bahkan aku sendiri tak mengerti ujungnya.


Seperti Al-Ghazali yang memilih pergi dari riuh,
menukar ambisi dengan keheningan,
dan menemukan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar dunia.


Seperti Chairil yang tersesat dalam gejolak cintanya sendiri,
yang tak pernah benar-benar bisa ia jinakkan.


Dan aku,
di ruang sempit ini,
masih saja berhadapan dengan hal-hal sederhana
yang justru paling menyiksa.


Sebab tiap kali melihat rambutmu yang sedikit berantakan,
ada dorongan kecil dalam diriku
untuk merapikannya.
begitu saja, tanpa pikir panjang.


Namun pikiranku selalu berlari lebih dulu,
menghentikan jemariku
sebelum sempat mendekat.


Ia mengingatkan:
tentang batas yang tak boleh dilanggar,
tentang jarak yang harus tetap dijaga,
tentang segala kemungkinan
yang tak pernah diizinkan ada.


Dan akhirnya,
niat itu hanya tinggal niat.


Sementara bayanganmu
tetap tinggal di mataku,
mengendap bersama rasa yang tak pernah sempat tumbuh utuh.


Di tempat ini,
seolah dinding-dinding ikut menekan,
membebani dada yang terlalu penuh,
menyisakan rindu
yang tak tahu harus pulang ke mana.


Kau...
bahkan untuk sekadar kusapa saja,
selalu terasa terlalu jauh.


Dan aku,
selalu mundur sebelum benar-benar mencoba.


Jadi mungkin ini bukan soal lupa,
melainkan tentang mengerti terlalu banyak:
bahwa tidak semua yang terasa
ditakdirkan untuk terjadi.


Namun anehnya,
di antara diam yang canggung ini,
kau tetap hadir.


sebagai pikiran yang datang
pada pukul dua pagi,


yang tak pernah berhasil kuusir sepenuhnya,
sekeras apa pun aku berpura-pura
sudah tak lagi peduli.

Wednesday, March 18, 2026

,

Aku hanya takut melupakanmu.


Takut suatu hari nanti waktu berjalan terlalu jauh, terlalu cepat, sampai hal-hal kecil tentangmu mulai pudar satu per satu. Padahal justru di situlah kamu paling terasa, di hal-hal sederhana yang dulu terasa biasa saja.


Setiap di rumah, aku masih melihat sepotong dirimu.
Seperti Bapak yang duduk di ruang tamu saat aku pulang.
Dengan gurauan khasmu, tumben pulang…” yang dulu sering kuanggap sepele, tapi sekarang justru paling aku rindukan.


Maaf…
untuk tidak sering pulang di saat aku sebenarnya bisa.


Sekarang, rumah terasa berbeda.
Bukan karena bentuknya berubah, tapi karena Bapak tidak lagi ada di dalamnya.


Aku juga masih melihatmu di adik.
Setiap kali dia memakai pakaianmu, sarungmu, dan berjalan santai di rumah.. ada bagian dari Bapak yang seperti belum benar-benar pergi.
Seolah Bapak hanya sedang berpindah tempat, bukan hilang.


Sejak 4 Agustus 2022 itu, semuanya berjalan seperti biasa, tapi juga tidak pernah benar-benar sama.
Dunia tetap bergerak, orang-orang tetap hidup, tapi ada satu bagian dari hidupku yang berhenti di hari itu.


Bapak,
apakah kamu bahagia di sana?


Apakah tempatmu kini penuh dengan ketenangan,
seperti yang selalu Bapak usahakan untuk kami dulu?
Apakah Tuhan sudah membalas semua lelahmu
dengan kebahagiaan yang tidak lagi terbatas oleh dunia?


Aku sering bertanya-tanya…
kalau Bapak masih di sini, apakah semuanya akan tetap sama seperti dulu?
Apakah aku masih bisa menjadi anak kecilmu
yang selalu Bapak lindungi,
meski dunia memaksaku terlihat kuat?


Aku memang belajar untuk berdiri sendiri.
Aku terlihat baik-baik saja.
Aku tertawa, bekerja, berjalan seperti biasa.


Tapi, Pak…
tanpamu, aku tidak pernah benar-benar sama.


Ada banyak hal yang belum sempat aku katakan.
Tentang betapa aku bangga menjadi anak Bapak.
Tentang betapa aku masih membutuhkan Bapak,
bahkan saat aku berpura-pura tidak.


Maaf,
kalau dulu aku terlalu sibuk tumbuh dewasa,
sampai lupa bahwa Bapak sedang berjalan menuju tua.


Maaf,
kalau aku jarang bilang sayang,
padahal rasanya selalu penuh.


Bapak,
aku masih menyimpan semua tentangmu.
caramu tersenyum, caramu diam, bahkan caramu marah.
Hal-hal kecil yang mungkin akan hilang satu per satu seiring waktu…
dan itulah yang paling aku takutkan.


Karena kenangan bersamamu terasa tak terbatas,
tapi ingatanku… tidak.


Kadang aku merasa,
cinta itu seperti sesuatu yang tidak benar-benar hilang.
Dia hanya berubah bentuk.


dan Bapak sekarang ada di banyak hal,
di rumah, di adik, di kebiasaan-kebiasaan kecil yang tanpa sadar masih aku lakukan.


Aku masih sering ngobrol sama Bapak,
dalam diam.
Dalam doa.
Dalam hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan ke siapa pun.


Kalau Bapak bisa lihat aku sekarang,
aku cuma berharap satu hal.


semoga aku masih jadi anak yang bisa Bapak banggakan.


Jangan terlalu jauh ya, Pak…
atau mungkin, jangan biarkan aku benar-benar kehilanganmu.


Karena sejauh apa pun waktu berjalan,
aku tetap ingin menemukan Bapak,
di ingatan, di doa, di setiap bagian dari diriku yang masih Bapak tinggalkan.


Sampai nanti,
kalau Tuhan mengizinkan,
aku ingin berlari,
seperti yang selalu kamu ajarkan.
bukan untuk pergi,
tapi untuk pulang.