Sudah berapa lama kita seperti ini?
dekat, tapi tak benar-benar bertemu,
saling tahu, tapi tak benar-benar menyapa.
Aku sampai bertanya-tanya,
kapan ya percakapan kita pernah terasa utuh?
Karena sejauh yang kuingat,
kita selalu sebatas tanya dan jawab singkat,
lalu selesai begitu saja.
Dan hari ini,
akhirnya kita duduk di satu meja.
Lucunya, kamu yang mengajak.
Hal kecil yang seharusnya sederhana,
tapi entah kenapa terasa besar bagiku.
Mungkin karena ini pertama kalinya.
Atau mungkin karena aku berharap lebih dari sekadar makan.
Kupikir, kalau kamu yang memulai,
kamu juga yang akan membuka cerita.
Ternyata aku keliru.
Aku sempat bertanya,
sekadar memastikan,
“lagi suntuk?”
Kamu menjawab,
tapi seperti tak benar-benar ingin didengar.
Setelah itu, aku yang berusaha menjaga percakapan tetap hidup.
Bukan dengan hal-hal dalam,
bukan sesuatu yang berani menyentuh perasaan.
Hanya pertanyaan ringan, aman.
Dan sisanya… hening.
Sampai aku bertanya dalam hati,
ini kita sedang makan bersama,
atau hanya dua orang yang sama-sama diam
di tempat yang sama?
Padahal,
kita seharusnya sudah melewati fase canggung.
Setidaknya, harusnya begitu.
Diammu hari ini terasa berbeda.
Bukan sekadar tenang,
tapi seperti batas yang tak terlihat.
Dan aku,
yang biasanya bisa berdamai dengan diam,
justru merasa terusik.
Aku jadi sadar,
selama ini pun mungkin memang begitu.
Aku yang lebih sering mencari,
aku yang mencoba memulai,
dan kamu… memilih tetap diam.
Aku tidak keberatan menunggu,
tapi apakah aku harus selalu menunggu?
Surat ini pun sebenarnya tak punya suara.
Ia hanya rangkaian kata
yang mungkin tak mampu memaksamu untuk menjawab.
Tapi meski tanpa suara,
ia membawa rasa,
rasa yang justru lahir dari diammu.
Rasa yang tidak tunggal.
Rasa yang saling bertabrakan di kepala.
Kadang terasa seperti berteriak,
kadang hanya menggantung
dan membuatku gelisah tanpa alasan yang jelas.
Mungkin ini terdengar berlebihan,
tapi hanya lewat cara ini aku bisa tetap “berbicara”.
Karena di antara kita,
diam seperti sudah mengambil terlalu banyak ruang.
Aku tahu,
kita sama-sama tenggelam dalam diam.
Entah karena sibuk,
atau mungkin karena sudah terbiasa.
Tapi jujur,
diam yang seperti ini tak pernah benar-benar terasa nyaman.
Diammu selalu memunculkan tanya.
Apakah itu jawaban yang tak diucapkan?
Atau justru pertanyaan
yang sengaja kamu biarkan menggantung?
Kadang aku ragu,
apa ada yang salah dariku?
Atau memang kamu yang perlahan menjauh,
tanpa pernah benar-benar pergi?
Diammu aneh.
Ia tidak berhenti di kamu,
tapi perlahan menyeretku ikut diam.
Aku tidak ingin mengganggumu.
Tapi justru diammu yang terus menggangguku.
Aku juga sempat berpikir,
mungkin ini semua karena aku terlalu lama menunggu kamu bersuara duluan.
Mungkin aku yang salah langkah.
Tapi semakin lama,
yang tadinya samar jadi terasa jelas,
jarak itu bukan lagi tipis.
Ia sudah berubah menjadi batas
yang sulit untuk kulewati.
Aku menulis ini bukan untuk menuntut jawaban besar.
Aku hanya ingin jujur,
bahwa di balik semua diam ini,
aku masih menyimpan sesuatu.
Perasaan yang entah kenapa
belum juga menemukan tempatnya.
Dan yang paling mengganggu,
aku mulai meragukan diriku sendiri,
apakah aku terlalu jauh membaca semuanya,
atau justru selama ini aku yang pura-pura tidak mengerti?
Hari ini memberiku satu hal:
kita bisa duduk berhadapan,
tapi belum tentu benar-benar saling hadir.
Aku lelah menebak.
Aku hanya ingin suatu hari bangun,
dan kita tidak lagi saling bersembunyi di balik diam.
Karena jujur,
aku takut,
kalau terlalu lama seperti ini,
aku akan kehilangan tempatku,
digantikan oleh sesuatu yang bahkan tak pernah benar-benar ada:
diam itu sendiri.
Hari ini,
aku memilih untuk bersuara.
Menyampaikan sesuatu yang sejak lama kupendam.
Dan dari semua pertanyaan yang berisik di kepalaku,
hanya satu yang terus tertinggal.
waktu kamu mengajakku makan tadi,
itu karena kamu ingin,
atau hanya karena aku ada?
Kalau boleh jujur,
jangan terlalu lama diam.
Aku lebih menyukai kamu yang berisik,
daripada kamu yang perlahan menghilang tanpa kata.