Barangkali aku tak benar-benar lupa bagaimana rasanya jatuh
hanya saja, terlalu lama menahannya
hingga ia menjelma sesuatu yang lain:
sebuah riak yang membesar diam-diam
di kepalaku,
mengusik malam-malam yang seharusnya tenang,
seakan mendesak untuk disingkirkan,
lalu disimpan rapi
sebagai pengakuan yang tak pernah diucapkan.
Sejak awal seharusnya aku paham,
ada yang tak pernah benar-benar hilang
ia hanya menunggu lengah,
menunggu celah kecil
untuk kembali terasa.
Seperti musim yang datang tanpa diminta,
saat buah-buah Khuldi matang pada waktunya,
dan doa-doa menggantung di udara
tanpa kepastian akan dikabulkan atau tidak.
Seperti Hawa yang menitipkan harap pada Adam,
seperti Zulaikha, yang akhirnya kalah oleh tatapannya sendiri pada Yusuf.
dan seperti aku
yang tak pernah cukup kuat
untuk bersikap biasa saja pada rasa.
Mungkin bukan lupa,
mungkin aku hanya tak lagi tahu
bagaimana harus memulainya.
Maka kutata perasaan ini pelan-pelan,
seperti merangkai kata yang enggan selesai,
yang terus berjalan
hingga akhirnya menyamar menjadi puisi
yang bahkan aku sendiri tak mengerti ujungnya.
Seperti Al-Ghazali yang memilih pergi dari riuh,
menukar ambisi dengan keheningan,
dan menemukan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar dunia.
Seperti Chairil yang tersesat dalam gejolak cintanya sendiri,
yang tak pernah benar-benar bisa ia jinakkan.
Dan aku,
di ruang sempit ini,
masih saja berhadapan dengan hal-hal sederhana
yang justru paling menyiksa.
Sebab tiap kali melihat rambutmu yang sedikit berantakan,
ada dorongan kecil dalam diriku
untuk merapikannya.
begitu saja, tanpa pikir panjang.
Namun pikiranku selalu berlari lebih dulu,
menghentikan jemariku
sebelum sempat mendekat.
Ia mengingatkan:
tentang batas yang tak boleh dilanggar,
tentang jarak yang harus tetap dijaga,
tentang segala kemungkinan
yang tak pernah diizinkan ada.
Dan akhirnya,
niat itu hanya tinggal niat.
Sementara bayanganmu
tetap tinggal di mataku,
mengendap bersama rasa yang tak pernah sempat tumbuh utuh.
Di tempat ini,
seolah dinding-dinding ikut menekan,
membebani dada yang terlalu penuh,
menyisakan rindu
yang tak tahu harus pulang ke mana.
Kau...
bahkan untuk sekadar kusapa saja,
selalu terasa terlalu jauh.
Dan aku,
selalu mundur sebelum benar-benar mencoba.
Jadi mungkin ini bukan soal lupa,
melainkan tentang mengerti terlalu banyak:
bahwa tidak semua yang terasa
ditakdirkan untuk terjadi.
Namun anehnya,
di antara diam yang canggung ini,
kau tetap hadir.
sebagai pikiran yang datang
pada pukul dua pagi,
yang tak pernah berhasil kuusir sepenuhnya,
sekeras apa pun aku berpura-pura
sudah tak lagi peduli.