Showing posts with label Life. Show all posts
Showing posts with label Life. Show all posts

Tuesday, January 23, 2024

,

dia si perempuan yang senang akan kejenuhannya memukul-mukul pahit kenyataan dalam sakitnya

kata-kata adalah sengatnya
lalu dilontarkan kemudian menjadi asa

aku tidak membencinya
tidak satu titik pun
tidak satu koma pun

namun dia membenciku
hingga relung jiwanya mengering
sampai tangannya mengepal geram
sampai ceritanya berubah jadi duri-duri tajam
sampai wajah cantiknya menjadi biru
sampai kulit halusnya menjadi ungu

aku kasihan
aku mau memegang tangannya lalu berkata mari kita pergi bermain mencari hujan

luka-luka dia lebih besar dari luka-luka aku
mungkin dia terlalu bersemangat bermain hingga terjatuh sampai darah dari lukanya ada di mana-mana
darahnya ada di sepatuku
ada di jam tangan coklatku
ada di kuku pucatku
ada di ujung-ujung rambutku yang rontok
ada di tuts-tuts keyboard laptopku

aku mau membersihkannya
boleh aku membersihkannya?

aku tidak membencinya

aku mengampuninya...
aku mengampuninya tanpa titik
aku mengampuninya tanpa koma
akumengampuninyatanpaspasi
aku mengampuninya...

aku mengampuninya seperti yang diajarkan padaku
mengampuni tanpa syarat

walau nanti aku luput dari pandangannya, cuma satu yang aku mau dia tau

hei, aku mengampunimu dan mengasihimu melebihi yang kamu kira

bunuh aku lalu lanjutkan hidupmu.

Sunday, May 5, 2013

,
Semenjak kuliah, waktu rasanya terasa begitu cepeeet, padahal gue nggak terlalu menikmati masa-masa awal kuliah ini. Kenapa ya? Sibuk, mungkin. Tapi seru juga, mungkin.

Kuliah beda banget sama masa-masa SD, SMP, SMA. Beda pisan atulah..
Ah, kangen kehidupan yang lama.

Kangen Grogol.
Kangen berangkat pagi-pagi, kepanasan di bus, badan rasanya mau rebahan aja di tempat tidur kalo berangkat sekolah; Kangen bangun pagi-pagi, keluar rumah sejuk, tapi matahari cerah; Kangen sore-sore diem di kamar, buka jendela, ada suara angin; Kangen pulang malem-malem, trus lari ngos-ngos-an gara-gara ketakutan larut banget sampe rumah, haha, kocak; Kangen ngeliat mimbar ijo di lapangan nan megah tiap hari;

Kangen MAN1.
Kangen pagi-pagi masuk kelas X2, XIIPA, XIIIPA, kangen suasana kelas, kangen suasana upacara, kangen masjid sekolah, kangen olahraga di lapangan diiringi teriakan-teriakan orang yang maen bola, kangen putih abu, kangen batik MAN1, kangen tempe mendoan mas Adit, kangen masakan enyak, kangen jalan rame-rame mau olahraga bareng temen sekelas di lapangan sama luar sekolah, kangen labkom, kangen siang-siang pulang sekolah rame-rame naik bus, kangen keujanan bareng pas lagi nunggu bus, kangen pulang malem-malem abis latihan paskib, kangen pushup bareng angkatan 09, kangen puncak, kangen guru-guru, kangen nginep bareng temen-temen, rumah Ami, rumah Uswa, rumah Nana, kangen kumpul di warung tante Noni bareng XI&XII IPA, kangen beli makanan di warnas bareng-bareng sekelas, kangen berangan-angan masuk UI bareng temen, kangen ikut TO SNMPTN di GOR Grogol, kangen pak Dasril, kangen ngeledekin Makhbub sekelas, kangen maen tebak-tebakan, kangen bukber angkatan, kangen semua.

Kangen MTsN11KJ.
Kangen pop ice depan sekolah, kangen maen buaya-buaya-an di kelas, kangen jajan di SD pas pulang sekolah, kangen naik angkot 06 ke Kalipasir, kangen ketawa-ketawa di angkot, kangen puncak, kangen intensif tiap hari dateng jam 3, kangen pramuka sama Alm. Pak Ali, kangen sholat berjama'ah tiap hari, kangen rumah Anah nginep, kangen kelas 7-4, 8-3, 9-3, Alm. Pak Ali, Bu Fatmawati, Bu Ida, kangen ruang multimedia, kangen UN, kangen ROHIS, kangen TO, kangen ruang guru, kangen deg-degan liat hasil ujian, kangen perpustakaan, kangen muhasabah di aula, kangen ngobrol-ngobrol pas pulang sekolah, kangen maen bola, kangen basket, kangen lapangan, kangen ke Mall nonton, kangen belajar kelompok, kangen Indomie mas Mo, kangen kantin, kangen ke koperasi, kangen semua.

Kangen SDPertiwi.
kangen jalan kaki pagi-pagi ke sekolah, kangen jajan es mambo, kangen maen petak umpet satu kelas, kangen nangis gara-gara ketinggalan bus pas kunjungan ke PEC, kangen didikte belajar pagi-pagi sambil jalan ke sekolah sama mamah, kangen maen di rumah bu Tati, kangen Hafiza, kangen lari-larian, kangen gedung coklat putih, kangen maen bulu tangkis di lapangan SD, kangen les sana-sini, kangen ikut lomba kemana-mana, kangen ruang kepsek, kangen bu Anis, bu Tati, pak Yusuf,  semua.

Dafuq, enggak move on move on.

Monday, December 17, 2012

,
Pagi tadi aku terbangun dengan wajah sumringah. Ah, mimpi apa aku semalam. Yang aku ingat, aku hanya  (sempat) memikirkan apa yang terjadi sama kamu setelah jauh dariku. Sepertinya kamu tak pernah lagi memunculkan namamu di layar handphoneku. Kamu tau, rindu macam apa yang sedang aku candu ini? Aku kecanduan, B! Aku kecanduan. Karna kamu. Kamu narkobaku! The sweetest drugs that I have ever.

Kamu apa kabar? Klasik. Tapi aku suka. Berulang kali kalimat itu yang pertama muncul dalam pikiranku ketika memikirkanmu. Kamu tau, aku sedang apa sekarang? Aku sedang belajar, B! Iya, belajar dari kesalahan. Kesalahan masa lalu yang pernah aku lakuin ke kamu dan mereka. Aku mencoba menjadi yang lebih baik. Seperti kata kamu. Aku harus bisa memperbaikinya dan menerima setiap resiko dari apa yang udah aku lakuin. Tapi nyatanya, nggak ada timbal balik dari yang aku lakuin, B. Kenapa ya? Apa Tuhan nggak mau maafin aku? Sebegitu parahkan kesalahanku? Aku hanya mencoba mencari yang terbaik. Walaupun aku tau, cara yang aku gunakan salah. Salah fatal. Jujur, aku tak pernah menyesal telah melakukannya. Karna dari kesalahan itu, aku bisa kenal kamu. :) My (lovely) kebeb. =))

Aku bisa deket sama kamu. Aku bisa tau, kalau di belantara Depok sana, ada seorang cowok yang kurus kerempeng kayak kamu! Hehe Ada seorang cowok yang bisa buat dunia aku jungkir balik. Ada seorang cowok yang bersedia menyanyikan beberapa lagu dengan gitar kesayangannya untukku. Yang selalu berbagi cerita padaku tentang apapun. Yang selalu menceritakan tentang dirinya, tanpa aku harus bertanya terlebih dahulu. Ah, banyak bek. Aku tak mampu menuliskannya satu persatu di blog ini tentang efeknya kamu hadir di hidupku. Jari-jariku lelah, bek. Lelah mengetik, menghapus, mengetik dan menghapusnya lagi setiap kali ingin mengirimkan sesuatu untukmu walaupun hanya sekedar say "Hey, bek!". Susah rasanya, bek. Ada jarak di antara kita. Jarak ini bukan tentang tempat. Tapi tentang rasa. Aku untukmu. Kamu untuknya.

Kamu tau nggak, bek? Aku udah berusaha sekuat mungkin untuk nggak memikirkan kamu. Men-stalk social media yang kamu punya. Untuk yang kedua itu, aku berhasil, bek. Aku berhasil. Tapi untuk yang pertama rasanya sulit. Mungkin bisa, tapi pasti akan lama. Rasanya seperti cabut rumput Taman Menteng sendirian. Iya, mungkin bisa. Tapi akan lama. Kamu tau? Kamu itu kayak maicih level 10! Udah tau pedes, tapi tetep aja dimakan sampai habis. Analogi yang masuk akal bukan? :')

Udahlah, bek. Aku capek. Kangenku selalu aja nggak terbalaskan. HAHAHAHAHAMIRISHAHAHA









NB: Aku menuliskan ini di tengah kuliah Fisika Dasar. Di saat konsentrasiku pecah karna kamu. :) Makasih ya :)

Saturday, December 1, 2012

,
Sudah tanggal 30 November, hari ini. Ini hari. Hari gue. Ah, sungguh opening yang aneh.
Well, selamat ulang tahun untuk gue. Umur gue makin bertambah, gue makin tua. HAHAHA!!
*disambit cermin, disuruh ngaca sama umur sendiri*

Baiklah, enam belas.. Enam belas, belas, belas......
Yak, ulang tahun kali ini bisa dibilang sederhana tapi menyenangkan untuk gue.
Ada surprise yang datang dua kali. Ya, DUA KALI. Yang pertama dari keluarga gue, tepat jam 12 lebih beberapa menit. Mereka bangun dan membawa cake untuk gue. Ketawa tiwi foto-foto sedikit, habis itu kami makan, ngobrol panjang lebar. Setelah (cukup) ngantuk, langsung tidur dan......
Gue bangun kesiangan.

Oh well, sungguh disiplin sekali gue ini -_________-"
Langsung buru-buru berangkat ke kampus, Mama dan Papa memberi selamat dan harapan-harapan mereka terhadap gue. Gak jauh-jauh dari "biar jadi anak yang soleh, sukses dan *uhuk* IP", sih..
*iya, untuk bagian 'IP' itu sensitif, jadi ada autosensornya supaya tulisannya mem-bold sendiri*
Lalu dikampus, gue mendapat surprise dari teman-teman terdekat gue di kampus. Seharian dari pagi sampai siang selalu ada yang memberi gue ucapan selamat DALAM BENTUK APAPUN (iya, memang harus capslock). Pretty simple, but it was enough to make me cry. Tears of happiness and joy :')

Lalu, ada kado-kado yang tidak 'wah' namun berarti juga untuk gue, seperti yang kalian akan baca di postingan bawah ini, birthday gift from my lovely, Zizi. And others!

And, yes, gue juga merasakan beberapa perubahan bahkan di hari pertama gue berumur 16. 
Apa lagi ya? ...
*berpikir keras*

Ehm..
Kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Terima kasih sudah memberi saya sebuah kehidupan yang berlanjut hingga saat ini.
Saya sangat menyukai dan mensyukurinya.
Terima kasih telah memberi saya berbagai macam kesempatan untuk belajar, mencoba, gagal, mencoba terbang lalu jatuh dengan keras, dan berbagai macam kejadian lainnya bahkan untuk detail yang paling mikro.

Tuhan,
Saya bukanlah sesuatu di mata-Mu. Saya hanya nol koma nol nol nol nol nol nol satu dibanding sepuluh ribu juta. Sebutir pasir di padang gurun. Sebersit cahaya pada matahari. Namun saya tidak berhenti mengucap syukur, atas berkat, rahmat, somat, ahmat, baiklah Tuhan, saya bercanda. Boleh dong sekali-kali?
Mohon jangan dilaknat dulu, Tuhan. Saya mohon. Saya masih mau do'a..
Lanjut ya, Tuhan? Baiklah..
*30 menit kemudian*

Maaf ya, Tuhan, agak lama.. Tadi saya abis dapet surprise dari sepupu-sepupu dan adik saya. Ah, bahkan hingga akhir ini saya masih dapat senyum :)
Tuhan, saya tidak perlu bicara banyak, karena Engkau lah Yang Maha Mengetahui.
Tolong berikan saya segala prasangka baik dan pandangan yang luas, tolong bantu saya untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Kepada Tuhan Yang Maha Esa,
Sekali lagi.. Terima kasih. Untuk semuanya, segala kesempatan, dan awal baru ini..
Karena di awal tahun keenam belas tahun di hidup saya ini, sungguh tidak ada keinginan lain dari saya selain menjadi bahagia dan membahagiakan orang-orang yang saya sayangi :)
...
*ketiduran*
....
Baiklah, itu saja dulu. Nanti kalau ada penambahan informasi, gue kabar-kabarin aja lagi ya. Jarkom bisa, kan? Ya bisa laaaaah~
*ngomong sama rumput yang bergoyang*

Well, jujur, gue tidak mengharapkan apa-apa untuk ulang tahun kali ini kecuali kebahagiaan dan kemampuan gue untuk melakukan perbaikan-perbaikan di kesalahan-kesalahan gue sebelumnya di masa lalu. Gue juga hanya ingin lebih bisa mensyukuri apapun yang gue miliki dan gue jalani, agar gue tidak menjadi orang yang mudah menghakimi. Intinya, gue ingin menjalani hidup dengan baik dan menyerap setiap unsur yang ada di dalamnya, agar gue  walaupun tidak selalu menghasilkan yang terbaik, namun bisa belajar untuk menjadi lebih baik lagi :)

Well, I should've slept from hours ago, tapi ini buktinya masih browsing-browsing youtube dan chat dengan beberapa teman. Hayah :))
Ya sudahlah, markidur. Mari kita tidur. Good night, good readers. Yang bukan good readers, gak usah kesini-sini deh.
#eaaaaaaaaaaa
*masih nyindir*
*dilaknat Tuhan, "Katanya mau belajar jadi lebih baik lagi??!!"*
Iya maaf, Tuhan.. Saya khilaf.




The birthday present from my Lovely Sister: A tote bag written "Tak kenal makanya kenalan dong" (cute, isn't it? Love it to the max), a blue sky necklace, and a pinky birdie brooch.
How can't I love her and all of her kindness? How can't I welcome her to my life with all of her shiny colorful rainbow? How can't I make her as my 'escape' whenever my monochrome side dominates me and my mind?
Dear God, she's just too precious. Please send every best thing that available in heaven to down here on earth, for her, for them, for us.
Yes, three of us.. :)


May this year will be no tears and fear. Amen :)

Sunday, November 4, 2012

,
Bagaimana perjalananmu? Kalau ada kata yang bisa menggambarkan perasaanku selain kata ' Rindu ' , aku akan dengan senang hati mengatakannya.

Seperti sudah lama aku berpisah denganmu, entah sejak kapan dimulai. Tapi kekosongan ini memang sudah aku ramalkan sebelumnya, jauh sebelum kamu benar-benar pergi. Aku lupa terakhir kali menyapamu dengan kalimat apa, oh...sepertinya ucapan permintaan maaf dan terima kasih.

Bagaimana dengan langit kita? Apakah masih sama warnanya? Atau malah kebalikannya? Senjamu indah seperti semua senjaku, kah?

Bagaimana dengan bumi yang kita pijak? Tanahnya sama seperti yang sedang kutatap, bukan? Grafitasinya bersumber dari satu titik, bukan?

Aku memang tak pernah jauh darimu, selama bulatan bumi belum membelah diri, aku masih tetap ada di dekatmu.
Bagaimana dengan hati? Dengan ruang yang sudah mulai terisi? Dengan masa lalu yang ditarik kembali? Dengan kesempatan yang tidak akan pernah kumiliki?

Jarak tubuh kita ternyata masih belum seberapa dibandingkan dengan jarak gumpalan kecil bernama ' Hati ' .



Source: Metamorfosa

Monday, October 22, 2012

,
Untukku, kehilangan dan perpisahan adalah potongan-potongan mozaik kehidupan yang paling menyakitkan.

Kamu.

Sudah berulang-ulang aku merasakannya, berulang kali, lalu lagi, dan terus kehilangan lagi. Tetapi, rasanya masih terlalu pahit untuk getir yang kupikir tak akan terasa saat kembali mengaliri. Dia, lalu dia, dia, kemudian kamu.
Kamu. Bagian mozaik yang kutemukan untuk melengkapi, potongan yang kuragukan bisa menutupi sisa kosong yang masih kumiliki; iya, kamu.

Kehilanganmu seperti memaksaku untuk tidak percaya pada hal yang orang sebut cinta, pada sesuatu yang mereka elu-elukan keberadaannya. Kehilanganmu menceloskan harapan yang kamu siratkan dalam tiap perkataanmu, dalam tiap hangat yang kamu janjikan dalam pelukmu.
Kehadiran hanya sebatas semu, pada akhirnya toh kamu harus tetap pergi. Memisahkan diri dari hingar bingar kekacauan yang kita buat, menjauhi keyakinan dan menggantinya menjadi sebuah keraguan.

Kehilangan dan perpisahan seolah potongan yang harus kumiliki, kucari adanya agar hidupku sempurna. Seperti gelap malam dengan cahaya siang, sama halnya tangis dengan tawa. Seimbang. 
Katanya semua diciptakan berpasang-pasangan, atau mungkin kusebut saja saling menggantikan. Terus bergulir saling mengisi, kemudian diganti dan diganti sampai menemukan kepastian.
Bukan dunia peri yang sedang kutinggali, hanya satu buku berisi bagian-bagian tak beraturan dengan berbagai emosi yang menunggu kutata rapi.

Seperti menyusun mozaik dalam buku; kutempelkan setiap cerita berwujud sketsa satu demi satu, dan tak lupa kini menempatkan namamu di satu sisi. Sampai aku sadar saat kamu menjelma menjadi wujud nyata dari perpisahan dan kehilangan... Aku memilih untuk berhenti. Aku jera bermain-main dengan pencarian, aku sudah bosan menemukan banyak kehilangan.

Karena kehilangan dan perpisahan adalah potongan tersulit yang bisa kuterima, aku menganggapnya sebagai bagian paling rumit dari sebuah mozaik dalam kehidupan. Dari rangkaian mozaik-ku yang masih berantakan.

Wednesday, September 26, 2012

,

2010

Apakah kamu punya mimpi? Atau kah memang pemimpi sejati?

Ya, dulu aku adalah pemimpi. Semuanya aku mimpikan diam-diam. Tidak sedikit mimpiku tercapai, tidak sedikit pula terbang entah kemana. Bahkan lupa sama sekali karena mimpiku yang bertambah banyak.

Ya, dulu adalah pemimpi. Setidaknya sebelum semuanya terasa hanya mimpi.
Wajarkah jika seorang gadis sepertiku memimpikan seseorang yang benar-benar menjadikanku istimewa untuknya. Meskipun aku adalah seorang gadis yang terkesan hanya tertarik dengan sesuatu berbentuk huruf atau angka. Begitu kata mereka.

Sedikit pun aku tak pernah menampakkan, aku pernah bermimpi tentang itu. Aku, seorang gadis yang mendapatkan julukan cewek cuek, memang sulit untuk bercerita, meskipun mimpi-mimpi selalu menari-nari, apalagi bercerita tentang mimpi itu. Tapi apa yang bisa aku lakukan, mimpi itu tiba-tiba menyusup ke dalam hati, lalu tertanam dalam otak.
Untukku, mimpi haruslah terwujud. Lebih baik tidak memimpikan, dari pada tidak mewujudkan. Tapi aku sulit mengenyahkan perasaan itu, mimpi itu semakin menguasai. Benarkah itu mimpi?
__

Aku, adalah seorang gadis berumur 14 tahun yang tidak mengerti tentang apa itu cinta. Cinta, rasanya terlalu dangkal jika diartikan sebagai sebuah rasa yang melonjak-lonjak ketika sesuatu yang kita rasa kita cintai berada disamping kita, memberikan perhatian dan memberikan kata-kata yang manis.

Tapi itulah cinta yang sering aku saksikan, seperti tontonan yang menyedot perhatian. Dan kenapa pada akhirnya akhirnya aku pun tertarik padanya?
Ahh, cinta sampai aku menapakan kaki di wilayahmu, aku belum benar-benar mengenalmu.

Cinta membuat ku memimpikan sesuatu yang rasanya mulai kabur, aku melambung, tapi tak menapakkan kakiku. Aku takut, takut terlalu tinggi, tapi aku tak bisa menahan lambungannya.
__

2011
Beberapa kali aku mencoba mengenalmu, tapi mengapa cinta begitu sulit untuk dipahami?
Mengapa aku harus berlari, lalu dipaksa terhenti?
Apakah aku salah arah? Apa jalanku salah mengenalimu?

Karena lambungannya yang sangat tinggi, maka ketika terjatuh aku terperosok dalam.
Meskipun aku rasa aku tak mengenali diriku lagi. Aku mencoba untuk kembali memanjat, memanjat mencari permukaan untuk berpijak.

Aku banyak melupakan mimpi, bukan hanya mimpi tentangmu. Rasanya harapan bukan lagi kawanku.

Tidak, aku tak ingin bermimpi lagi, apalagi tentangmu.
Begitu hebatkah kekacauan karena cinta?
Bukan, bukan, mungkin aku belum mengenal cinta.
__

2012
Bukan tidak pernah mimpi itu memaksa kembali menyusup. Tapi tidak. Aku tau, aku tau kamu hanya ingin menghancurkan lagi benteng-benteng pertahananku. Aku tak ingin lagi terjebam, aku tak ingin lagi menginjakkan kakiku di wilayahmu.

Kamu tiba-tiba datang, sampai aku tak sadar aku telah memasuki wilayah yang berbeda.

Kamu bertanya tentang mimpi. Tidak aku tak ingin membicarakannya. Meskipun tak terasa aku mulai membicarakannya.

Kamu bertanya tentang cinta dan harapan, bahkan lebih jauh dari itu. Tidak aku tak ingin membicarakannya. Meskipun tak terasa akulah yang mulai sering membicarakannya.

Kamu kenalkan sesuatu yang berbeda, meskipun aku tau cinta mana pun tak akan pernah sempurna.

Selalu ada cerita yang membuatnya lebih berwarna.

Aku hanya ingin mulai bermimpi (lagi).

Saturday, August 25, 2012

,

Seperti aku yang sedang memelihara anak harimau. Dia lucu, menggemaskan, dan nagih untuk terus di ajak bermain. dia jinak. dia sangat lucu atau sering aku panggil dia "unyu-unyu". Aku begitu menyayanginya. tidak ada satu hari yang terlewat untuk menjaga dan melindunginya. Kumisnya lucu, bahkan warna tubuhnya serta motif corak itu penuh estetika. raungannya manis, dan terdengar lirih di kuping. Cakaran dari kuku nya pun justru hanya membuat geli. Dan aku menikmatinya. Aku senang karena aku memeliharanya. Tapi saat dia tumbuh besar, mungkin jinak itu telah berubah menjadi buas. Raungannya yang manis nanti akan menggelegar bising dan menulikan. Perlahan, aku bukan lagi yang dia tuankan karena aku adalah mangsanya. Kapanpun bisa saja aku yang jadi santapan mengisi kosong diperutnya. Dia dengan liarnya mampu menggigit, mencabik, mengoyak-ngoyak seisi tubuhku, bahkan melumatku hingga habis tanpa sisa. Darahku hanya pemanis dari menu santapannya. Akulah yang terbuang darinya.



Aku masih di persimpangan. Bingung memilih beberapa opsi yang telah banyak orang sarankan.

Mau tetap menjaganya, dan aku akan mati sendiri olehnya. Sakit tak terperih, siksa tak terampun, dan miris yang meraya.

Atau,

Membawa dia ke kebun binatang. Biar dia tetap terurus dan terjaga. Dia akan baik baik saja sampai besar nanti. Aku tidak perlu khawatir. Aku pun masih bisa menjenguknya sekali waktu. Seminggu sekali, sebulan sekali, setahun sekali, atau kapanpun aku masih bisa bertemu. Yang berbeda, aku berada diluar rangka yang membungkusnya. Ada batas antara aku dan dia. agar dia tidak menyakitiku dan agar aku tetap bisa menjenguknya untuk sekedar tahu kabar.

Atau lainnya,

Aku melepas dia ke hutan liar. Tempatnya.. rumahnya.. alamnya.. dimana dia akan meraja membentuk sisi yang sama liar nya. Dia bebas menjadi apapun yang dia mau. Berlari, meraung, memangsa, mencabik, karena itulah hidupnya. Dan aku tidak akan menemuinya lagi. Sepenuhnya aku melepas dia berlari, menjauh, dan tidak terlihat. Masuk ke dalam hutan yang tidak mungkin aku jangkau.

Seperti itu, aku memelihara perasaan untukmu. Apa yang aku pelihara saat ini, yang aku jaga saat ini, tidak akan berbuah manis dan ranum pada akhirnya. Aku tidak mudah untuk meniadakan yang ada. Namun aku pun tidak selalu mampu menahan sakit juga perih yang menghujam ke setubuhku. Aku lelah terus di kasihani, aku lelah terus menunggu, dan aku lelah terus mengejar. Aku bukan dahan yang selamanya akan menggantung pada ranting. Kini aku telah jatuh, bukan ke bawah, tapi terbawa angin, entah kemana, yang jelas menjauh dari ranting. Aku sudah pergi dan aku pun sudah melepasmu. Tak lagi berusaha. Karena aku tahu, kamu berlari untuk dilepas bukan untuk di kejar. Dan aku belajar untuk berhenti bertanya.

Did you know, I'm just human, ya... I'm really hurting inside. All I want is to be understood so I made the choice to finally let go. I can't stand the pain. It's time to wipe the last tear away and smile again. Being with you, were taught me a lots. Thank you for everything you do to me. Thank you.

Wednesday, July 11, 2012

,
Kenapa ya, mayoritas orang lebih suka bilang "Gue suka elo yang dulu! Bukan yang sekarang!!". Bukankah ada pepatah mengatakan, "Jika kamu tidak lebih baik dari hari kemarin, kamu termasuk orang-orang yang merugi." Lalu apa? Kenapa orang-orang itu lebih suka orang lain yang dulu dibanding sekarang? Sebegitu yakinkah mereka, kalau orang yang mereka maksud tidak (lebih) baik dibanding mereka yang dulu? #kusut Hahaha

Entahlah, di sini gue mau membahas tentang seseorang. Iya, lagi lagi dia orangnya! Mr. Y! Kenapa hidup gue harus selalu berputar sama orang yang sama? Di antara ribuan bahkan jutaan makhluk yang berbeda gender, kenapa harus dia orangnya?! Jujur, gue suka dia yang dulu :') Dia bahkan tidak se(lebih) perhatian yang dulu. Dia lebih cenderung cuek. Mungkin.

Gue kangen elo yang dulu. Elo yang gak pernah absen dari ucapan "Selamat Pagi.. Siang Sore bahkan Malam." Gue juga kangen jam-jam malam yang kita lewatin dengan mengobrol panjang lebar di telfon sembari menunggu datangnya kantuk. Gue juga kangen elo yang selalu ngerengek minta di maafin setiap gue lagi ngambek :') Gue kangen elo yang gak pernah mau membuat gue menunggu kabar dari elo. Elo yang selalu spam di inbox, WhatsApp bahkan mention gue. Yang gak pernah mau ngebiarin siapapun deketin atau ngehibur gue kecuali elo. Elo yang selalu berhasil bikin ketawa, nangis, nyesek, bingung gue sama sikap lo. Elo yang selalu kasih perhatian lebih ke gue, noo :')

Tapi sayang, sekarang situasinya sangat berbeda. Gue gak bisa (lagi) baca apa yang ada di pikiran elo. Elo itu abu-abu, noo! You know what? Lo gak bisa lagi gue terka pikirannya. Elo aneh, noo. Gue gak ngerti sama sekali apa yang terjadi di antara kita saat ini bahkan sampai batas waktu yang tak terprediksi. Benar ya kata orang.. "Andai waktu bisa di putar ulang kembali.." Jujur di awal lebih baik di banding jujur di akhir. Walaupun kita sama-sama tahu, itu sama menyakitkannya.

Boleh gue tanya, mau lo apa sekarang? Lo seharusnya marah sama gue, noo! Lo itu aneh!! Lebih aneh dari yang ada di pikiran gue selama ini. Kenapa lo masih mau berkomunikasi sama gue? Apa yang lo cari sebenarnya? Jangan kayak gini, noo :') Ini sama aja, lo ngebunuh gue secara perlahan..

Saturday, April 21, 2012

,

Mencintaimu itu seperti mengetahui bahwa umurku tidak panjang. Aku tidak ingin melihat apa yang akan terjadi ke depan. Aku tidak ingin berandai-andai apakah kita nanti akan menikah, punya anak, memiliki keluarga bahagia. Aku tidak ingin berharap, menuntut, memintamu untuk melakukan sesuatu nantinya. Aku hanya ingin kamu di sini, menggenggam tanganku, mungkin menciumnya lalu tersenyum dan memelukku.

Itu saja.

Itu saja cukup.

Mencintaimu itu seperti menunggu untuk jatuh.

Tapi aku tidak perduli.

Aku ingin terbang setinggi-tingginya, kemudian bermain bersama bintang, terbakar bersama matahari, tercipta kembali, lelah, kemudian tertidur di atas awan, melihat pemandangan Indah, melihat senyummu.

Jika nanti tiba waktunya terjerembab, jatuh, pecah berkeping-keping, terluka dan tidak pernah sembuh, setidaknya aku pernah mencintaimu. Aku pernah terbang bersamamu.
dan aku ingin di sini, 'mengada' bersamamu :) menghirup udara yang sama denganmu dengan harapan semuanya akan beku lalu tersimpan di pelosok terdalam pada bagian hati sebelah kiri.

Karena denganmu aku paham dua ratus lagu cinta yang selalu aku cemooh, dan satu pertanyaan yang tidak pernah ingin aku lengkapi: "mengapa kita ada di sisi jurang yang berbeda, sedang rasa yang yang kita genggam menyatu?"

Monday, April 16, 2012

,

Dewasa ini, banyak siswa yang merasa malas untuk bersekolah. Mereka merasa bahwa sekolah adalah kewajiban yang membebani mereka. Mereka merasa sekolah itu tidak berguna. Apakah benar sekolah itu tidak berguna? Apa sebenarnya tujuan dari sekolah?

Sekolah bertujuan untuk mendidik siswa-siswinya. Sekolah adalah tempat menimba ilmu. Sekolah memberi bekal hidup bagi siswa-siswinya. Saya rasa semua orang telah mengetahui hal-hal tersebut. Lalu mengapa masih ada yang merasa sekolah itu adalah beban? Hal itu disebabkan oleh cara pandang mereka yang negatif. Banyak siswa yang sering mengatakan mereka tidak berniat untuk bersekolah dan beberapa dari mereka menanyakan bagaimana caranya mendapat motivasi untuk sekolah.

Bagaimana jika dimulai dengan menukar kacamata negatif tersebut dengan kacamata positif? Ada banyak hal positif dari sekolah yang sering diabaikan oleh para siswa. Salah satunya adalah happiness of learning. Pernahkah Anda merasa tidak enak bila Anda tidak mengetahui apa-apa? Mengetahui banyak hal adalah hal yang menyenangkan. Sama halnya dengan belajar. Mempelajari hal baru setiap harinya adalah hal yang menyenangkan, bukankah begitu? Cobalah mencari perasaan senang dalam belajar.

Ada banyak pelajaran yang diajarkan oleh sekolah dan semua pelanjaran itu penting dan berguna. Jangan meremehkan satu pelajaran pun. Banyak siswa yang hanya menyukai beberapa pelajaran dan meremehkan pelajaran lain. Mereka menganggap pelajaran tersebut tidak akan digunakan di kehidupannya yang akan datang. Beberapa dari mereka telah menentukan cita-cita mereka dan pelajaran yang tidak berhubungan dengan cita-cita mereka itu mereka abaikan. Padahal, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Siapa yang tahu akan jadi apa kita nanti? Siapa tahu pelajaran yang diremehkan itu akan dibutuhkan di kemudian hari. Memiliki pengetahuan yang luas bukanlah hal yang merugikan. Jika Anda tahu lebih banyak dari orang lain, itu adalah hal lebih bagi Anda.

Hal positif lainnya adalah mendapat teman baru. Saat Anda baru lahir, Anda tidak memiliki siapa-siapa selain keluarga Anda. Setelah Anda mulai bersekolah, barulah Anda mengenal banyak teman, Anda belajar bersosialisasi dengan mereka. Berteman adalah hal yang menyenangkan juga. Anda dapat mengetahui pribadi orang yang berbeda-beda dan belajar banyak dari mereka. Anda juga mengenal apa itu "cinta", "persahabatan", dll. Banyak hal positif yang dapat dipetik dari pertemanan tersebut.

Di sekolah, kita tidak hanya mendapat ilmu pengetahuan dan teman, kepribadian kita juga dibentuk di sekolah. Kita dapat membedakan hal yang baik dan yang tidak. Kita mendapat banyak pengalaman dan kenangan indah dan belajar dari situ. Kita diajarkan sopan santun, moral, dll.

Yang terpenting dari sekolah bukan hanya ilmu yang kita dapat. Sekolah bukan tentang kepintaran dan nilai, karena hal itu tidak akan bertahan lama. Yang terpenting adalah pengalaman dan kenangan yang indah yang kita dapat di sekolah. Jangan sia-siakan masa sekolahmu. Banyak orang yang menyesal karena menyia-nyiakan masa sekolah mereka. Banyak orang yang ingin mengulang waktu dan kembali ke masa sekolah mereka. Maka dari itu, nikmatilah masa sekolahmu, karena hanya terjadi sekali dalam hidupmu, tak dapat diulang kembali.

Thursday, December 15, 2011

,
#1: Who am I?
 I am your constant companion. I am your greatest helper or heaviest burden.
I will push you onward or drag you down
to failure. I am completely at your command.
Half the things you do you might just as 
well turn over to me and I will be able to do 
them quickly and correctly.

I am easily managed--you must merely
be firm with me. Show me exactly how you 
want something done and after a few lessons
 I will do it automatically. I am the 
servant of all great individuals and, alas, of 
all failures, as well. Those who are great I
have made great. Those who are failures,
I have made failures.

I am not a machine, though I work
with all the precision of a machine plus
the intelligence of a human. You may run
me for a profit or run me for ruin--it
makes no difference to me.
Take me, train me, be firm with me, 
and I will place the world at your feet. Be
easy with me and I will destroy you.

Who am I?
I am habit


#2: Man in the Mirror
I'm starting with the man in
the mirror
I'm asking him to change
 his ways
And no message could have
been any clearer
If you wanna make the world
a better place
Take a look at yourself, and
then make a change.


#3
When I was young and free and my my
imagination had no limits, I dreamed of
changing the world;

As I grew older and wiser I realized the
world would not change.

And I decided to shorten my sights
somewhat and change only my country.
But it seemed immovable.

As I entered my twilight years, in one last
desperate attempt, I sought to change
only my family, those closest to me, but
alas they would have none of it.

And now here I lie on my death bed and
realize (perhaps for the first time) that if
only I'd changed myself first, then by
example I may have influenced my
family with their encouragement
and support I may have bettered my
country, and who knows I may have
changed the world.


#4 There's a Hole in My Sidewalk by Portia Nelson
I walk down in the street.
There is a deep hole in the sidewalk.
I fall in.
I am lost...I am helpless.
It isn't my fault.
It takes forever to find a way out.

I walk down the same street.
There is a deep hole in the sidewalk.
I pretend I don't see it
I fall in again.
I can't believe I am in the same place
But, it isn't my fault.
I still takes a long time to get out

I walk down the same street.
There is a deep hole in the side walk
I see it there
I still fall in. It's a habit.
My eyes are open
I know where I am
It is my fault. I get out immediately.

I walk down the same street.
There is a deep hole in the sidewalk.
I walk around it.

I walk down another street


# 5 By Douglas Malloch
The tree that never had to fight
For sun and sky and air and light,
But stood out in the open plain
And always got its share of rain,
Never became a forest king
But lived and died a scrubby thing...
Good timber does not grow with ease,
The stronger the wind, the stronger the trees


#6 By Robert Frost
Two roads diverged in
a wood, and I--
I took one less 
traveled by,
And that has made all
the difference.


# 7 By Shakespeare
What win I, if I gain thing I seek?
A dream, a breath, a froth of fleeting joy.
Who buys a minute 's mirth to wail a week?
Or sells eternity to get a toy?
For one sweet grape who will the vine destroy?


#8
To realize the value of One Year,
Ask a student who failed his or her AP exams.
To realize the value of One Month,
Ask a mother who gave birth to a premature baby.
To realize the value of One Week,
Ask an editor of weekly magazine.
To realize the value of One Day,
Ask a daily wage laborer who has six kids to feed.
To realize the value of One Hour,
Ask the lovers who are waiting to meet.
To realize the value of One Minute,
Ask a person who missed their train.
To realize the value of One Second,
Ask the person who survived an accident.
To realize the value of One Millisecond,
Ask the person who won a silver medal in the Olympics.


# 9 Please Listen
When I ask you to listen to me
and you start giving me advice,
you have not done what I asked.
When I ask you to listen to me
and you begin to tell me why
I shouldn't feel that way,
you are trampling on my feelings.
When I ask you to listen to me
and you feel you have to do something
to solve my problem,
you have failed me,
strange as that may seem.
Listen! All I ask is that you listen
Don't talk or do--just hear me


# 10 The Cold Within
Six humans trapped by happenstance, in bleak and bitter cold,
Each oe possessed a stick of wood, or so the story's told.

Their dying fire in need of logs, the first man held his back,
For of the faces 'round the fire, he noticed one was black.

The next man looking 'cross the way they saw one not of his church,
And couldn't bring himself to give the fire his stick of birch.

The third one sat in lattered clothes, he gave his coat a hitch,
Why should his log be put to use to warm the idle rich?

The rich man just sat back and thought of wealth he had in store,
And how to keep what he had earned from the lazy, shiftless poor.

The black man's face bespoke revenge as the fire passed from the sight,
For all he saw in his stick of wood was a chance to sit the white.

The last man of his forlorn group did naught except for gain,
Giving only to those who gave how he played the game.

Their logs held tight in death's still hand was proof of human sin.
They didn't die from the cold without--they died from the cold within


I hope it's inspire you guys :D