Aku hanya takut melupakanmu.
Takut suatu hari nanti waktu berjalan terlalu jauh, terlalu cepat, sampai hal-hal kecil tentangmu mulai pudar satu per satu. Padahal justru di situlah kamu paling terasa, di hal-hal sederhana yang dulu terasa biasa saja.
Setiap di rumah, aku masih melihat sepotong dirimu.
Seperti Bapak yang duduk di ruang tamu saat aku pulang.
Dengan gurauan khasmu, “tumben pulang…” yang dulu sering kuanggap sepele, tapi sekarang justru paling aku rindukan.
Maaf…
untuk tidak sering pulang di saat aku sebenarnya bisa.
Sekarang, rumah terasa berbeda.
Bukan karena bentuknya berubah, tapi karena Bapak tidak lagi ada di dalamnya.
Aku juga masih melihatmu di adik.
Setiap kali dia memakai pakaianmu, sarungmu, dan berjalan santai di rumah.. ada bagian dari Bapak yang seperti belum benar-benar pergi.
Seolah Bapak hanya sedang berpindah tempat, bukan hilang.
Sejak 4 Agustus 2022 itu, semuanya berjalan seperti biasa, tapi juga tidak pernah benar-benar sama.
Dunia tetap bergerak, orang-orang tetap hidup, tapi ada satu bagian dari hidupku yang berhenti di hari itu.
Bapak,
apakah kamu bahagia di sana?
Apakah tempatmu kini penuh dengan ketenangan,
seperti yang selalu Bapak usahakan untuk kami dulu?
Apakah Tuhan sudah membalas semua lelahmu
dengan kebahagiaan yang tidak lagi terbatas oleh dunia?
Aku sering bertanya-tanya…
kalau Bapak masih di sini, apakah semuanya akan tetap sama seperti dulu?
Apakah aku masih bisa menjadi anak kecilmu
yang selalu Bapak lindungi,
meski dunia memaksaku terlihat kuat?
Aku memang belajar untuk berdiri sendiri.
Aku terlihat baik-baik saja.
Aku tertawa, bekerja, berjalan seperti biasa.
Tapi, Pak…
tanpamu, aku tidak pernah benar-benar sama.
Ada banyak hal yang belum sempat aku katakan.
Tentang betapa aku bangga menjadi anak Bapak.
Tentang betapa aku masih membutuhkan Bapak,
bahkan saat aku berpura-pura tidak.
Maaf,
kalau dulu aku terlalu sibuk tumbuh dewasa,
sampai lupa bahwa Bapak sedang berjalan menuju tua.
Maaf,
kalau aku jarang bilang sayang,
padahal rasanya selalu penuh.
Bapak,
aku masih menyimpan semua tentangmu.
caramu tersenyum, caramu diam, bahkan caramu marah.
Hal-hal kecil yang mungkin akan hilang satu per satu seiring waktu…
dan itulah yang paling aku takutkan.
Karena kenangan bersamamu terasa tak terbatas,
tapi ingatanku… tidak.
Kadang aku merasa,
cinta itu seperti sesuatu yang tidak benar-benar hilang.
Dia hanya berubah bentuk.
dan Bapak sekarang ada di banyak hal,
di rumah, di adik, di kebiasaan-kebiasaan kecil yang tanpa sadar masih aku lakukan.
Aku masih sering ngobrol sama Bapak,
dalam diam.
Dalam doa.
Dalam hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan ke siapa pun.
Kalau Bapak bisa lihat aku sekarang,
aku cuma berharap satu hal.
semoga aku masih jadi anak yang bisa Bapak banggakan.
Jangan terlalu jauh ya, Pak…
atau mungkin, jangan biarkan aku benar-benar kehilanganmu.
Karena sejauh apa pun waktu berjalan,
aku tetap ingin menemukan Bapak,
di ingatan, di doa, di setiap bagian dari diriku yang masih Bapak tinggalkan.
Sampai nanti,
kalau Tuhan mengizinkan,
aku ingin berlari,
seperti yang selalu kamu ajarkan.
bukan untuk pergi,
tapi untuk pulang.
