Thursday, April 5, 2012

Prolog Hati

"Hatimu tak akan berhenti berbicara, selama ragamu masih nyata dalam buaian manis kehidupan manusia."

Hati terasa begitu pilu, lambat laun menciut tak lagi berwujud. Perpisahan sejak empat ratus tiga puluh satu hari yang lalu tak juga mengubah daya pikatmu. Aku tak mengerti bagaimana matahari bersinar dalam terangnya siang. Tak mengerti mengapa bulan ingin menyinari gelapnya malam. Aku rasa mereka tulus. Apa harus? Atau rakus? Tak ubahnya gerak mereka yang menyinari dengan cahaya. Tak ubah pula pikiran dan rasaku terhanyut dalam gelapnya mata yang tak beretina.
Selama hidupku aku tak pernah sebodoh ini. Antara benci, kagum, bingung. Aku tak tahu apa nama sebutan yang pas untuk perasaanku. Tak memiliki daya untuk melupakanmu, tapi aku benci untuk mengingat tentang kamu. Sepanjang ini. Tapi juga tak punya secercah lubang cahaya jingga untuk keluar merangkak.

Dalam simfoni langkahku. Oh bukan! Merangkak! Aku hanya bisa merangkak! Kuulangi. Dalam simfoni rangkakku. (Ah meski tak terdengar bagus, tapi ini realitanya!). Aku menelusuri tiap detik cahaya jinggaku. Mengikuti setiap cercah yang kutangkap. Mencoba merasakan. Penuh dari dalam hati. Hati yang sudah tak berwujud.

Berulang-ulang hal ini kulakukan. Entah tujuan apa yang aku cari. Entah apa yang aku inginkan. Tapi aku mulai membangun dan meniup dengan karbondioksida agar hatiku mengembang kembali. Tak pilu. Tak menciut.

Tiba-tiba, suatu hari ditempat yang awam dan tak bisa kurasakan auranya. Hatiku kembali berdegup. Tak begitu cepat. Tapi cukup memacuku untuk tetap merasakannya dengan asih. Aku kembali hidup. Tunggu, bukan aku. Tapi jiwaku. Hatiku. Lalu, kini aku dapat merasakan kembali indahnya senyuman, bunga yang sedang merekah, juga jiwa yang sedang bergejolak karena kasmaran.


***

No comments:

Post a Comment