Wednesday, December 5, 2012

,

Seperti kacamata, yang pertama aku cari ketika bangun pagi. Bahkan terkadang aku kesal sekali jika tidak menemukannya dengan cepat.
Seperti sisir, yang kuletakkan di meja riasku dan tidak pernah absen untuk aku memakainya kapanpun.
Seperti blush on, yang selalu membuat pipi merah merona bukan kepalang. Juga membuat cantik.
Seperti secangkir susu, yang menyapaku dengan lucu di pagi hari melalui aromanya. Atau membantuku terjaga dalam tumpukan tugas di kala malam hari.
Seperti bantal, yang menjadi tempat kepalaku bersandar di kala peliknya masalah hari ini. 
Seperti rumah, yang tidak pernah bosan menungguku pulang. Hal yang selalu menjadi tujuanku di akhir hari. 
Seperti senja, yang menenggelamkan segala terik dan ricuh lalu menghadirkan sejuk dan tenang.
Seperti malam, yang kadang membuat takut, tapi tidak jarang membuat kagum terhadap bintang-bintang dan bulannya.
Seperti hujan, yang kupandangi dari balik jendela dan kuhirup baunya. Menghapus semua kering.
Seperti itulah kurang lebih perumpamaanya.
Seperti itulah kamu…

Saturday, December 1, 2012

,
Sudah tanggal 30 November, hari ini. Ini hari. Hari gue. Ah, sungguh opening yang aneh.
Well, selamat ulang tahun untuk gue. Umur gue makin bertambah, gue makin tua. HAHAHA!!
*disambit cermin, disuruh ngaca sama umur sendiri*

Baiklah, enam belas.. Enam belas, belas, belas......
Yak, ulang tahun kali ini bisa dibilang sederhana tapi menyenangkan untuk gue.
Ada surprise yang datang dua kali. Ya, DUA KALI. Yang pertama dari keluarga gue, tepat jam 12 lebih beberapa menit. Mereka bangun dan membawa cake untuk gue. Ketawa tiwi foto-foto sedikit, habis itu kami makan, ngobrol panjang lebar. Setelah (cukup) ngantuk, langsung tidur dan......
Gue bangun kesiangan.

Oh well, sungguh disiplin sekali gue ini -_________-"
Langsung buru-buru berangkat ke kampus, Mama dan Papa memberi selamat dan harapan-harapan mereka terhadap gue. Gak jauh-jauh dari "biar jadi anak yang soleh, sukses dan *uhuk* IP", sih..
*iya, untuk bagian 'IP' itu sensitif, jadi ada autosensornya supaya tulisannya mem-bold sendiri*
Lalu dikampus, gue mendapat surprise dari teman-teman terdekat gue di kampus. Seharian dari pagi sampai siang selalu ada yang memberi gue ucapan selamat DALAM BENTUK APAPUN (iya, memang harus capslock). Pretty simple, but it was enough to make me cry. Tears of happiness and joy :')

Lalu, ada kado-kado yang tidak 'wah' namun berarti juga untuk gue, seperti yang kalian akan baca di postingan bawah ini, birthday gift from my lovely, Zizi. And others!

And, yes, gue juga merasakan beberapa perubahan bahkan di hari pertama gue berumur 16. 
Apa lagi ya? ...
*berpikir keras*

Ehm..
Kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Terima kasih sudah memberi saya sebuah kehidupan yang berlanjut hingga saat ini.
Saya sangat menyukai dan mensyukurinya.
Terima kasih telah memberi saya berbagai macam kesempatan untuk belajar, mencoba, gagal, mencoba terbang lalu jatuh dengan keras, dan berbagai macam kejadian lainnya bahkan untuk detail yang paling mikro.

Tuhan,
Saya bukanlah sesuatu di mata-Mu. Saya hanya nol koma nol nol nol nol nol nol satu dibanding sepuluh ribu juta. Sebutir pasir di padang gurun. Sebersit cahaya pada matahari. Namun saya tidak berhenti mengucap syukur, atas berkat, rahmat, somat, ahmat, baiklah Tuhan, saya bercanda. Boleh dong sekali-kali?
Mohon jangan dilaknat dulu, Tuhan. Saya mohon. Saya masih mau do'a..
Lanjut ya, Tuhan? Baiklah..
*30 menit kemudian*

Maaf ya, Tuhan, agak lama.. Tadi saya abis dapet surprise dari sepupu-sepupu dan adik saya. Ah, bahkan hingga akhir ini saya masih dapat senyum :)
Tuhan, saya tidak perlu bicara banyak, karena Engkau lah Yang Maha Mengetahui.
Tolong berikan saya segala prasangka baik dan pandangan yang luas, tolong bantu saya untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Kepada Tuhan Yang Maha Esa,
Sekali lagi.. Terima kasih. Untuk semuanya, segala kesempatan, dan awal baru ini..
Karena di awal tahun keenam belas tahun di hidup saya ini, sungguh tidak ada keinginan lain dari saya selain menjadi bahagia dan membahagiakan orang-orang yang saya sayangi :)
...
*ketiduran*
....
Baiklah, itu saja dulu. Nanti kalau ada penambahan informasi, gue kabar-kabarin aja lagi ya. Jarkom bisa, kan? Ya bisa laaaaah~
*ngomong sama rumput yang bergoyang*

Well, jujur, gue tidak mengharapkan apa-apa untuk ulang tahun kali ini kecuali kebahagiaan dan kemampuan gue untuk melakukan perbaikan-perbaikan di kesalahan-kesalahan gue sebelumnya di masa lalu. Gue juga hanya ingin lebih bisa mensyukuri apapun yang gue miliki dan gue jalani, agar gue tidak menjadi orang yang mudah menghakimi. Intinya, gue ingin menjalani hidup dengan baik dan menyerap setiap unsur yang ada di dalamnya, agar gue  walaupun tidak selalu menghasilkan yang terbaik, namun bisa belajar untuk menjadi lebih baik lagi :)

Well, I should've slept from hours ago, tapi ini buktinya masih browsing-browsing youtube dan chat dengan beberapa teman. Hayah :))
Ya sudahlah, markidur. Mari kita tidur. Good night, good readers. Yang bukan good readers, gak usah kesini-sini deh.
#eaaaaaaaaaaa
*masih nyindir*
*dilaknat Tuhan, "Katanya mau belajar jadi lebih baik lagi??!!"*
Iya maaf, Tuhan.. Saya khilaf.




The birthday present from my Lovely Sister: A tote bag written "Tak kenal makanya kenalan dong" (cute, isn't it? Love it to the max), a blue sky necklace, and a pinky birdie brooch.
How can't I love her and all of her kindness? How can't I welcome her to my life with all of her shiny colorful rainbow? How can't I make her as my 'escape' whenever my monochrome side dominates me and my mind?
Dear God, she's just too precious. Please send every best thing that available in heaven to down here on earth, for her, for them, for us.
Yes, three of us.. :)


May this year will be no tears and fear. Amen :)

Sunday, November 4, 2012

,
Bagaimana perjalananmu? Kalau ada kata yang bisa menggambarkan perasaanku selain kata ' Rindu ' , aku akan dengan senang hati mengatakannya.

Seperti sudah lama aku berpisah denganmu, entah sejak kapan dimulai. Tapi kekosongan ini memang sudah aku ramalkan sebelumnya, jauh sebelum kamu benar-benar pergi. Aku lupa terakhir kali menyapamu dengan kalimat apa, oh...sepertinya ucapan permintaan maaf dan terima kasih.

Bagaimana dengan langit kita? Apakah masih sama warnanya? Atau malah kebalikannya? Senjamu indah seperti semua senjaku, kah?

Bagaimana dengan bumi yang kita pijak? Tanahnya sama seperti yang sedang kutatap, bukan? Grafitasinya bersumber dari satu titik, bukan?

Aku memang tak pernah jauh darimu, selama bulatan bumi belum membelah diri, aku masih tetap ada di dekatmu.
Bagaimana dengan hati? Dengan ruang yang sudah mulai terisi? Dengan masa lalu yang ditarik kembali? Dengan kesempatan yang tidak akan pernah kumiliki?

Jarak tubuh kita ternyata masih belum seberapa dibandingkan dengan jarak gumpalan kecil bernama ' Hati ' .



Source: Metamorfosa

Saturday, November 3, 2012

,
Ada sakit yang enggan kutuliskan, tentangmu, tentang kalimat-kalimat yang sudah menghilang dari pandanganku.
Ada rindu yang meregang, kala namamu melintas sesaat hingga membuatku beku sejenak.
Ada kehilangan yang kembali kurasakan, saat kesadaran membisikkan nama seseorang setelah senyummu membayang.
Juga ada keinginan untuk memilikimu, mencari kesempatan yang tak pernah kupunya, menelisik perlahan ke ruang paling dalam hatimu.
Aku sudah lupa, tadinya. Tentang patah hati, tentang masa lalumu, tentang jarak, tentang perkenalan, tentang semuanya. Tapi alam memberiku jalan untuk mengingatmu, hanya mengingat, tidak lebih.
Mengenai tawa yang pernah mengisi kita, mengenai rasa malu yang kita buang entah seberapa jauhnya, mengenai kampung halaman yang terus kita rindu.

Pernah, hanya pernah. Masih? Entahlah.

Tak bisakah alam seadil neraca? Memberi jalan untuk mengingat semua sekaligus membocorkan rahasia untuk menemukanmu, mengabarkan keberadaanmu sekaligus membawaku ke hadapanmu, mengingatkan luka lalu membuatmu menjadi milikku?

Pernah, masih atau sudah tidakpun harusnya bukan masalah. Toh, kita hanya pernah.
,
Ada hal-hal yang tak perlu ditampakkan wujudnya; kelemahan, rasa sakit, kemarahan, kesedihan...

Ada rapuh yang sudah sekuat hati disembunyikan, dipendam, disamarkan dengan wajah dan tingkah seperti orang paling kuat. Namun, ada titik paling rawan untuk bisa melihat kalau semua penampakan tentang keteguhan hanyalah pura-pura.

Aku merasakannya. Kerapuhan yang dimiliki dan disembunyikan dengan keyakinan bahwa 'Hei, gue kuat. Ini cuma hal kecil.' Setiap orang mungkin pernah mempunyai keyakinan itu, dan beberapa orang di antaranya pernah gugur setelah sekian lama meyakininya.

Aku sudah runtuh beberapa kali, kerapuhan yang ditutupi, kemarahan yang pelan ditiup agar mati...nyatanya hanya terakumulasi. Terkumpul, dan bersiap memuntahkan semuanya di satu waktu.

Tapi aku sudah sekuat tenaga berusaha menahannya, mengabaikan semua amarah, menguatkan diri dan tersenyum seperti biasa. Bukan kerapuhan yang ingin aku tunjukkan, bukan pula kemarahan. Bukan.
Jadi maaf jika sudah terlanjur melihatnya, juga jika tak sengaja merasakan getahnya.

Ada sesal, ada rasa terpuruk mengingat kekalahan. Aku dikalahkan amarah, aku tak bisa memenangkan keyakinan kalau aku kuat. Kali ini aku mengaku, aku rapuh.

Ada rahasia yang tanpa sengaja dibuka dengan siratan; 
Ketidakmampuan, kegagalan, letih berkepanjangan, usaha yang belum juga mendapat titik terang. Lalu, sesekali akan ditampakkan dengan sengaja; dengan air mata, dengan kata 'Menyerah,' dengan menyendiri.

Ada sebab, ada akibat, ada masalah, ada putus asa, dan ada jalan keluar. Ada amarah, ada kekecewaan, ada kekalahan, ada keinginan untuk mundur, dan akan selalu ada kesempatan untuk berperang. Maju. Lalu berusaha lagi.

Akan selalu ada jeda di setiap langkah yang diambil; untuk sejenak bernapas, untuk sesaat memikirkan jejak yang sudah dibuat, dan untuk melanjutkannya.

Pasti ada keraguan dan segalanya yang sudah kutulis di atas, tapi akan terselip sedikit keyakinan. Pasti. Dan masih kuyakini hingga detik ini.

Sunday, October 28, 2012

,
1)

Andaikan tidak pernah ada kata andaikan dalam kehidupan ini
Kita takkan pernah susah payah menahan sakit di dada, pada sesuatu pada kenangan di masa silam
Untuk mengingatmu saja, ribuan luka tertoreh di dalam dada

2)

Disini, malam dengan seribu kenangan
Aku merenungi sebuah rekaman ingatan di masa silam
Nanti-nantikan sebuah penantian yang tak akan datang

3)

Kita hanyalah sepasang hati yang terlalu penuh harap dan angan. Tapi,
Angan hanyalah menjadi sebuah harapan. Sebuah layar yang tak pernah terkembang
Mimpi pun cuma menjadi pemanis saja. Bunga tidur yang sukses membuaikan lelap
Untuk menyenangkan hati, dengan rela kita terluka untuk menjaga agar harap tetap ada

4)

Benarkah? Harap, keinginan, angan dan kata-kata busuk semacamnya hanya pengawal duka?
Uraikan setiap memori indah menjadi pisau-pisau kecil yang tajam dan merobek perasaan
Kalau memang iya, sebutlah aku pengagum luka. Sebab kenangan itu selalu kujaga
Atau sebut saja aku penggila duka
Nestapa pun rela kurasai agar anganku memilikimu tetap terjaga

5)

Kemarin menstalk kamu di timeline
Indera penglihatanku membangunkanku dari segala ilusi dan pengharapan
Terbangun aku aku dari mimpi manis memilikimu sebagai kekasihku
Andaikan kata andaikan tidak pernah ada, mungkin aku takkan pernah sesakit ini mencintaimu, masa laluku.

Monday, October 22, 2012

,
Untukku, kehilangan dan perpisahan adalah potongan-potongan mozaik kehidupan yang paling menyakitkan.

Kamu.

Sudah berulang-ulang aku merasakannya, berulang kali, lalu lagi, dan terus kehilangan lagi. Tetapi, rasanya masih terlalu pahit untuk getir yang kupikir tak akan terasa saat kembali mengaliri. Dia, lalu dia, dia, kemudian kamu.
Kamu. Bagian mozaik yang kutemukan untuk melengkapi, potongan yang kuragukan bisa menutupi sisa kosong yang masih kumiliki; iya, kamu.

Kehilanganmu seperti memaksaku untuk tidak percaya pada hal yang orang sebut cinta, pada sesuatu yang mereka elu-elukan keberadaannya. Kehilanganmu menceloskan harapan yang kamu siratkan dalam tiap perkataanmu, dalam tiap hangat yang kamu janjikan dalam pelukmu.
Kehadiran hanya sebatas semu, pada akhirnya toh kamu harus tetap pergi. Memisahkan diri dari hingar bingar kekacauan yang kita buat, menjauhi keyakinan dan menggantinya menjadi sebuah keraguan.

Kehilangan dan perpisahan seolah potongan yang harus kumiliki, kucari adanya agar hidupku sempurna. Seperti gelap malam dengan cahaya siang, sama halnya tangis dengan tawa. Seimbang. 
Katanya semua diciptakan berpasang-pasangan, atau mungkin kusebut saja saling menggantikan. Terus bergulir saling mengisi, kemudian diganti dan diganti sampai menemukan kepastian.
Bukan dunia peri yang sedang kutinggali, hanya satu buku berisi bagian-bagian tak beraturan dengan berbagai emosi yang menunggu kutata rapi.

Seperti menyusun mozaik dalam buku; kutempelkan setiap cerita berwujud sketsa satu demi satu, dan tak lupa kini menempatkan namamu di satu sisi. Sampai aku sadar saat kamu menjelma menjadi wujud nyata dari perpisahan dan kehilangan... Aku memilih untuk berhenti. Aku jera bermain-main dengan pencarian, aku sudah bosan menemukan banyak kehilangan.

Karena kehilangan dan perpisahan adalah potongan tersulit yang bisa kuterima, aku menganggapnya sebagai bagian paling rumit dari sebuah mozaik dalam kehidupan. Dari rangkaian mozaik-ku yang masih berantakan.
,
Mungkin tak apa sedikit menangis.
Kamu juga manusia biasa.
Toh, air mata diciptakan dengan alasan.
Benar, tak apa kalau kamu ingin menangis.
Dadamu sudah sesak sejak lama, bukan?
Rahangmu sudah mengeras, entah sejak kapan.
Bibirmu terkatup menahan semua amarah dan kecewa, benar?
Menangislah...
Menangislah...
Tuhan tak akan menghukum tangisanmu.
Dia tak akan menghitungnya sebagai dosa.

Menangislah...kamu hanya manusia biasa.

Untuk kali ini saja, izinkan air matamu menyapa bumi.
Jangan memaksanya agar terus tersembunyi.
Jangan berkata kalau dia tidak ada.
Jangan mengelak kalau kamu sebenarnya menginginkannya.

Menangislah.
Menangislah, Ni.
Tangisan bukan dosa, tangisan milik semua makhluk-Nya.
Kamu sudah lelah, bukan?
Kamu tak mampu lagi menyembunyikannya.
Kamu harus menangis sekarang juga.

Tolong, menangislah...
Jangan siksa batinmu hanya karena ingin melihat orang lain terus tertawa.
Mereka tak akan pergi hanya karena air mata.
Mereka tak akan menghilang begitu saja.

Jadi menangislah...
Menangis seperti saat kamu sedang berada di titik paling lemah hidupmu.
Tak ada yang membantu.
Tak ada yang mengulurkan tangan.
Tak ada pegangan.
Menangislah...

Sudah, tak perlu malu. Malu hanya boleh dirasakan saat kamu gagal tanpa berusaha, saat kamu enggan mencoba.

Menangislah, Ni...
Menangislah sesekali.
Menangislah hari ini.
Satu kali saja, beri tahu bumi kalau kamu manusia biasa...
Menangislah....

Saturday, October 20, 2012

,
Satu-satunya tempat dimana aku masih bisa melihatmu dari sini, dari jarak jauh.
Satu-satunya tempat dimana aku masih bisa memperhatikanmu.
Satu-satunya tempat untuk tahu apa yang kau tulis hari ini, kemarin, beberapa hari yang lalu dan mungkin besoknya.
Satu-satunya tempat dimana aku bisa merindukanmu tanpa ada seorangpun yang tahu.

Itu, timeline twittermu.
Sungguh beruntung aku ada di masa ini ketika hidup pun semakin mudah dengan berbagai macam teknologi.
Stalker, sebutlah aku begitu. Hobiku adalah stalking timelinemu.
Tiada hari tanpa stalking timelinemu mungkin.
Ku arahkan kursor ku pada tombol search, ku tuliskan username mu.
Ketika loading selesai dan timeline mu muncul aku mulai memasang senyum meringis.
Aku lihat semua timeline nya, apa yang dia tulis dan kapan dia tulis itu.
Aku hanya berharap dari salah satu dari yang kau tuliskan di timeline mu adalah untukku, tapi nyatanya tidak akan pernah mungkin dia seperti itu.
Senyum ku hilang perlahan lahan jika aku temukan tulisan di timeline mu yang mungkin mengganggu bagiku dan perasaanku. Rasanya dadaku bergetar dan jantung berdegup lebih kencang, ah memang payah aku ini.
Lihat yang begitu saja sudah kalah, bukan aku yang kalah. Tapi perasaanku yang kalah.
Sungguh, sungguh aku sangat berharap sekali saja aku ada si salah satu tulisan di timeline mu. Tidakkah kau tahu bahwa kau adalah seorang "kamu" yang selalu aku sebut dalam tulisanku.
Entah mengapa hobiku ini membuat kecanduan, iya aku tidak bisa menghentikan diriku sendiri untuk terus melihat timeline mu dan merefreshnya setiap 5 menit sekali. Tanganku gemetar, aku deg-degan menunggu refresh timeline itu. Aku takut dan cemas menunggu apa yang akan aku baca nanti jika ini sudah selesai. Jika ada yang mungkin membuat aku senang senyum manis akan muncul di bibirku, tapi jika ada yang mengganggu perasaan senyum itu akan berganti menjadi sebaliknya.
Kenapa hal ini membuat kecanduan?
Staking timeline mu itu membuatku penasaran setiap waktu.
Kadang aku sengaja menunggu sehari untuk tau apa saja yang kau tulis hari ini.
Ini tak bisa aku hentikan, kenapa mengetahui setiap hal tentang kamu itu membuat ketagihan.
Kamu itu candu bagiku, kamu itu seperti drugs yang kalanya membuat ketagihan .
Kenapa mengetahui setiap hal tentangmu itu membuat kecanduan?
Aku selalu ingin tahu apa yang kamu lakukan hari ini.
Apakah aku seperti seorang mata-mata seperti ini?
Tapi inilah satu satunya cara aku bisa melihat tanpa kamu tau aku melihatmu. Aku melihatmu, dari sini. Tapi kau tak tau kan?

Wednesday, October 17, 2012

,

Terkadang, manusia itu lucu.
Lucu jika berbicara mengenai kesetiaan.
Ya, hari ini aku menyambangi beberapa sangkar dari burung cinta. Love bird. Mereka bermain ayunan, mengayun bersama-sama.
Setiap satu kamar berisi satu pasangan. Burung ini seperti sedang dimabuk cinta, rasanya dunia milik berdua tanpa pengganggu maupun masalah.
Kemanapun pasangan ini pergi, akan diikuti. Bahkan, jika mati pasangan lainnnya ikut merasakan sakit. Kemudian tidak mau makan, kemudian sakit dan mati bersamanya. Seperti sebuah takdir bahwa jika pasangannya mati, maka ikut mati. Dan seperti itulah kisah cinta dari burung bernama love bird.
Aku tertawa, senyum sinis ketika diceritakan bagaimana kisah cinta mereka. Rasanya seperti tertohok malu. Burung yang notabene tidak lebih pintar dari manusia saja bisa sedemikian setianya terhadap pasangannya, lantas kenapa kita, manusia yang mempunyai pikiran dan pesona tersendiri harus kalah dengan burung?
Beberapa teman berucap kepadaku, bahwa selama memiliki hubungan dengan seseorang, perselingkuhan menjadi hal yang lumrah, wajar katanya. Karena dari hal tersebut, mereka akan menyadari dan memperbaiki kesalahan dari perselingkuhan tersebut. Lantas, kalau memiliki hubungan lebih dari satu kali, apakah selingkuhnya juga harus lebih dari satu kali?
Terkadang, ketika aku disini. Di tempat kelahiranku di suatu tempat kota metropolitan, dengan hiruk pikuk modernisasi, aku suka termenung sendiri. Memikirkan apakah manusia itu terkadang kelakuannya kalah dengan seekor binatang?
Aku menjawabnya dengan caraku sendiri. Bahwa memang beberapa kelakuan kami kalah dengan seekor binatang, dan tidak dipungkiri bahwa semakin pintar seorang manusia, akan semakin tampak bodoh segala ucap dan kelakuannya. Semuanya dikalahkan dengan sikap tamak dan sombongnya.
Terkadang manusia memang lucu, bahkan sangat lucu.